Blog Wid Rachbini

Blog santai ajah, gak terlalu serius 🙂

Ketika Tukang Sol Sepatu Harus Menaklukkan Jalan Tol

Suatu pagi di Jalan Tanah Baru, Depok, saya melihat seorang tukang sol sepatu terengah-engah mendorong sepedanya menanjak untuk melintasi jalan tol Cinere–Jagorawi. Di atas sepedanya terikat kotak perkakas sederhana, sumber rezekinya sehari-hari. Pemandangan ini menyentuh, sekaligus menyadarkan: pembangunan jalan tol sering tidak adil bagi mereka yang paling lemah.

Jalan tol memang penting untuk memperlancar kendaraan bermotor. Tetapi kenyataannya, dalam banyak kasus jalan arteri dipaksa menanjak agar bisa melewati tol. Padahal, jalan arteri adalah ruang bersama: dilalui pejalan kaki, pesepeda, pendorong gerobak, hingga pedagang kecil. Bagi mereka, tanjakan curam bukanlah hal sepele, melainkan penderitaan nyata.

Seharusnya jalan tol yang menanjak melintasi jalan arteri, bukan sebaliknya. Semua pengguna tol adalah kendaraan bermotor yang mampu menanjak. Sedangkan di jalan arteri, ada banyak warga yang hanya mengandalkan tenaga manusia. Memang ada kasus yang sudah terlanjur. Tetapi solusinya sederhana: buatlah terowongan di bawah jalan tol untuk pejalan kaki, pesepeda, dan pedagang kecil. Dengan begitu, mereka tidak dipaksa menanjak tinggi, sementara mobil dan motor tetap bisa menanjak tanpa masalah.

Pembangunan infrastruktur mestinya bukan hanya tentang kelancaran lalu lintas kendaraan bermotor, tetapi juga soal keberpihakan pada manusia. Apa arti jalan tol yang megah, jika di bawahnya ada tukang sol sepatu yang harus bersusah payah hanya untuk melintas?

Infrastruktur yang adil adalah yang memberi akses layak kepada semua: dari pengemudi mobil mewah, hingga pejalan kaki sederhana yang mencari nafkah dengan dorongan sepeda tuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *