Pemerintah sekarang sedang sibuk mencari manajer Koperasi Merah Putih.
Sementara itu, Warung Madura di ujung gang tetap buka jam 2 pagi sambil jual kopi sachet, mi instan, dan rokok eceran dengan tenang.
Kadang saya merasa Warung Madura ini terlalu tidak menghargai teori manajemen modern.
Mereka tidak punya visi-misi lima tahunan.
Tidak ada workshop leadership.
Tidak ada team building di puncak.
Tidak ada KPI.
Bahkan mungkin tidak tahu apa itu “transformasi digital berbasis komunitas”.
Tapi anehnya… tetap untung.
Yang lebih lucu, negara ingin mencetak entrepreneur, tetapi langkah pertamanya justru membuka lowongan kerja manajer.
Entrepreneur sejati biasanya tidak terlalu sibuk upload CV.
Mereka sibuk menghitung: “Kalau galon belum dibayar tetangga, besok kulakan pakai uang siapa?”
Warung Madura juga hebat. Mereka bisa bersaing dengan Indomaret dan Alfamart tanpa AC, tanpa barcode scanner, tanpa promo “buy 2 get 1”.
Modal utama mereka cuma tiga:
lampu terang,
utang tetangga,
dan kemampuan tahan ngantuk.
Kadang saya berpikir, kalau konsultan Harvard meneliti Warung Madura, mungkin mereka akan membuat istilah baru:
“Midnight Survival-Based Retail Ecosystem”.
Padahal inti strateginya sederhana:
saat minimarket tutup, justru kebutuhan pelanggan mulai muncul.
Sementara itu, negara tampaknya masih percaya bahwa ekonomi rakyat bisa diselamatkan dengan cara klasik:
buat lembaga baru,
angkat pengurus baru,
rapat baru,
spanduk baru,
lalu bingung kenapa akhirnya jadi papan nama kusam seperti KUD zaman dulu.
Padahal rakyat kecil sudah memberi contoh:
usaha itu tidak hidup karena SK.
Usaha hidup karena pemiliknya takut dapur tidak ngebul.
Leave a Reply